SUNGAIPENUH – Pengembangan energi biogas di Kabupaten Kerinci kian diminati masyarakat, selain hemat juga bahan
Sebenarnya untuk di Kerinci dikabarkan biogas ini sudah dikembangkan sejak tahun 80-an lalu, namun sejak 2007 lalu kembali dibangkitkan oleh Pemkab bekerjasama dengan Lembaga Tumbuh Alami sebagai fasilitator dan tecatat sudah ada beberapa desa yang mulai mengembangkan biogas ini.
Bisnis Biogas tersebut ternyata mengundang perhatian Bupati Kerinci Murasman, kemarin (08/12), Bupati Kerinci meninjau secara langsung proses pengolahan Biogas di Dea Mukai Tinggi. Biogas yang telah berjalan hampir dua bulan ini ckup produmktif dalam menghasilkan pupuk kompos.
Bupati kerinci langsung melihat, peralatan untuk membuat pupuk biogas dari kotoran hewan, tumpukan kotoran hewan juga terlihat yang telah disipakan oleh kelompok tani mukai tinggi untuk mengolah biogas menjadi pupuk kompos.
Bupati Kerinci dalam kunjungannya mengungkapna bahwa usaha kelompok tani untuk mengolah biogas ini merupakan kegiatan yang positif, dimana kotoran hewan bisa dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah, disamping bahan
Kita sangat menginginkan agar biogas ini terus berkembang di Kabupaten Kerinci, petani seharusnya menggunakan biogas untuk menyuburkan tanah, karena biogasini tidak memiliki efek negatif terhadap kesuburan tanah. Katanya.
Dsisamping, itu Bupati juga meninjau peternkana sapi yang dikelololaoleh Kelompok tani Mukai Tinggi, Bupati merasa senang melihta sapi yang ada di dalamkandang berjulah 15 ekor terus berkembang, sementara kondisi sapi juga gemuk, “ saya sangat senang kalau meninjau sapi yang gemuk, unilh yang saya inginkan terhadap bantuan sapi yang diberikan”. Tegasnya.
Biogas tidak hanya di minati di siulak, warga Desa Paling Serumpun Rawang, Muara Jaya Kumun dan termasuk juga di desa Tanjung Pauh Keliling Danau. Sebelumnya warga Desa Talang Lindung Sungaipenuh juga telah mengunakan biogas ini.
Di Desa Paling Rumpun saja dari pantuan Koran ini kemarin satu stasiun biogas yang dibangun mampu dialirkan energinya untuk 15 rumah tangga, sehingga beberapa rumah tangga yang ada disekitar stasiun biogas tersebut tidak lagi bersussah payah membeli minyak dan kayu bakar lagi.
Daswir Pengelola Stasiun Biogas di Paling serumpun kepada Koran ini kemarin mengatakan, dirinya setiap hari cukup memasukkan sekitar 8 gerobak kotoran sapi milik warga sekitarnya ke dalam bak penampung biogas sehingga mampu menghasilkan gas untuk keperluan rumah tangga warga sekitarnya. “Kalau dulu kita beli minyak dan beli kayu, tapi sekarang sejak ada biogas ini kita perlu mengeluarkan uang lagi malah selain kita bisa dapat gas juga bisa dapat uang,” kata Daswir.
Gas yang dihasilkan oleh stasiun biogas miliknya itu sebut Daswir, tak ubahnya seperti gas yang dibeli gas elpiji. “Gasnya tidak bau dan malahan tidak ubahnya seperti gas elpiji lainnya,” ucapnya.
Limbah atau buangan kotoran sapi dari proses yang dilakukan di biogas itu sebut, juga bisa dijadikan sebagai pupuk kandang dan saat ini harganya mencapai Rp 3500 per karungnya. “Biasanya disini numpuk pupuk kandang dari sisa biogas, sekarang ini sudah dibeli dan orang ngambil langsung disini dengan harga Rp 3500,” ungkapnya.
Demikian pula penuturan Yeli, ibu dua anak warga Muara Jaya Kumun mengakui sangat terbantu dengan adanya biogas ini. Dikatakan Yelni, dulunya mereka sampai menghabiskan uang untuk membeli kayu dan minyak sampai 75 ribu per bulan kalau sekarangnya cukup dengan memasukkan kotoran ternak miliknya.
Lagi pula katanya, dulu dirumah tempatnya berserakkan kotoran sapi namun sekarang ini kotoran sapi pagi harinya langsung dimasukkan ke bak penampung biogas. “Kami sangat terbantu sekali dengan biogas ini dan pengeluaran juga jauh berkurang,” ucapnya.
Disisi lain pula Ema Fatma dari LTA mengatakan, sejauhn ini pihaknya memang sedang mengembangkan biogas di tiga desa khususnya di Paling Serumpun, Muara Jaya dan Tanjung Pauh. Dipilihnya lokasi ini lantaran ketiga desa ini lebih berpotensi lantaran memiliki banyak ternak sapi sehingga kotoran sapi bisa dimanfaatkan disamping juga menggunakan jerami sebagai bahan fermentasinya. “Memang tipe yang dikembangkan sangat berbeda dan tergantung potensi kotoran ternaknya, kebetulan di Paling Serumpun Rawang potensi kotoran lebih banyak sehingga stasiunnya lebih besar dan bisa dimanfaatkan untuk 15 rumah tangga, sedangkan di Muara Jaya hanya untuk rumah tangga dan dipakai oleh dua rumah tangga,” jelas Ema. yon
Tidak ada komentar:
Posting Komentar