Total Tayangan Halaman

Rabu, 30 Desember 2009

Bagaimana proses pembuatan alkohol 96% dari fermentasi tetes tebu beserta reaksi yang terjadi?

Alkohol 96% adalah hasil samping dari industri gula tebu.

Didalam cairan tebu (Nira) hanya glukosa jenis sakarosa yg bisa dikristalkan menjadi gula pasir. Sedangkan Glukosa lain meskipun manis rasanya tetapi tidak bisa dikristalkan disebut gula reduksi/gula pecah , glukosa jenis inilah yg dimanfaatkan oleh pabrik gula untuk difermentasi jadi alkohol.

Mikrobia jenis “Sacaromyces Cerevicae” yg sering digunakan untuk fermentasi ini, dimana mikrobia ini menghasilkan 7 macam enzim sbg katalisator reaksi.

Reaksi:

………………….S.C

C6H12O6 =======> 2C2H5OH + 2CO2 + Energi.

Glukosa ………………..Etanol

Alkohol yg dihasilkan dari proses fermentasi hasilnya masih rendah kadarnya (dibawah 12 %) sehingga diproses “distilasi” secara bertahap supaya menghasilkan kadar alkohol 96%.

Note:

Disamping alkohol jenis “etanol” (C2H5OH) terkandung pula sebagian kecil alkohol jenis “metanol “(CH3OH) , metanol ini sangat beracun bagi manusia untuk indikasi biar tidak diminum, ditambahkan CuSO4 shg berwarna biru, yg dipasaran kita kenal dg nama “SEPERITUS”.

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080301190828AAX0bh5

Fermentasi

Fermentasi merupakan kegiatan mikrobia pada bahan pangan sehingga dihasilkan produk yang dikehendaki. Mikrobia yang umumnya terlibat dalam fermentasi adalah bakteri, khamir dan kapang. Contoh bakteri yang digunakan dalam fermentasi adalah Acetobacter xylinum pada pembuatan nata decoco, Acetobacter aceti pada pembuatan asam asetat. Contoh khamir dalam fermentasi adalah Saccharomyces cerevisiae dalam pembuatan alkohol sedang contoh kapang adalah Rhizopus sp pada pembuatan tempe, Monascus purpureus pada pembuatan angkak dan sebagainya.Fermentasi dapat dilakukan menggunakan kultur murni ataupun alami serta dengan kultur tunggal ataupun kultur campuran. Fermentasi menggunakan kultur alami umumnya dilakukan pada proses fermentasi tradisional yang memanfaatkan mikroorganisme yang ada di lingkungan. Salah satu contoh produk pangan yang dihasilkan dengan fermentasi alami adalah gatot dan growol yang dibuat dari singkong. Tape merupakan produk fermentasi tradisional yang diinokulasi dengan kultur campuran dengan jumlah dan jenis yang tidak diketahui sehingga hasilnya sering tidak stabil. Ragi tape yang bagus harus dikembangkan dari kultur murni.Kultur murni adalah mikroorganisme yang akan digunakan dalam fermentasi dengan sifat-dan karaktersitik yang diketahui dengan pasti sehingga produk yang dihasilkan memiliki stabilitas kualitas yang jelas. Dalam proses fermentasi kultur murni dapat digunakan secara tunggal ataupun secara campuran. Contoh penggunaan kultur murni tunggal adalah Lactobacillus casei pada fermentasi susu sedang contoh campuran kultur murni adalah pada fermentasi kecap, yang menggunakan Aspergillus oryzae pada saat fermentasi kapang dan saat fermentasi garam digunakan bakteri Pediococcus sp dan khamir Saccharomyces rouxii.

http://ptp2007.wordpress.com/2008/06/19/fermentasi-dan-mikroorganisme-yang-terlibat/

Kamis, 10 Desember 2009

'Yondha Safutra Blog': Biogas kian berkembang di kerinci

'Yondha Safutra Blog': Biogas kian berkembang di kerinci

Biogas kian berkembang di kerinci

Bupati Tinjau Pengolahan Biogas

SUNGAIPENUH – Pengembangan energi biogas di Kabupaten Kerinci kian diminati masyarakat, selain hemat juga bahan baku untuk menghasilkan gas ini sangat mudah yakni dengan mengunakan kotoran ternak. Saat ini dikabarkan ada beberapa warga di beberapa desa di Kerinci yang tengah memanfaatkan biogas ini untuk keperluan rumah tangga.

Sebenarnya untuk di Kerinci dikabarkan biogas ini sudah dikembangkan sejak tahun 80-an lalu, namun sejak 2007 lalu kembali dibangkitkan oleh Pemkab bekerjasama dengan Lembaga Tumbuh Alami sebagai fasilitator dan tecatat sudah ada beberapa desa yang mulai mengembangkan biogas ini.

Bisnis Biogas tersebut ternyata mengundang perhatian Bupati Kerinci Murasman, kemarin (08/12), Bupati Kerinci meninjau secara langsung proses pengolahan Biogas di Dea Mukai Tinggi. Biogas yang telah berjalan hampir dua bulan ini ckup produmktif dalam menghasilkan pupuk kompos.

Bupati kerinci langsung melihat, peralatan untuk membuat pupuk biogas dari kotoran hewan, tumpukan kotoran hewan juga terlihat yang telah disipakan oleh kelompok tani mukai tinggi untuk mengolah biogas menjadi pupuk kompos.

Bupati Kerinci dalam kunjungannya mengungkapna bahwa usaha kelompok tani untuk mengolah biogas ini merupakan kegiatan yang positif, dimana kotoran hewan bisa dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah, disamping bahan baku biogasjuga mudah untuk didapatkan.

Kita sangat menginginkan agar biogas ini terus berkembang di Kabupaten Kerinci, petani seharusnya menggunakan biogas untuk menyuburkan tanah, karena biogasini tidak memiliki efek negatif terhadap kesuburan tanah. Katanya.

Dsisamping, itu Bupati juga meninjau peternkana sapi yang dikelololaoleh Kelompok tani Mukai Tinggi, Bupati merasa senang melihta sapi yang ada di dalamkandang berjulah 15 ekor terus berkembang, sementara kondisi sapi juga gemuk, “ saya sangat senang kalau meninjau sapi yang gemuk, unilh yang saya inginkan terhadap bantuan sapi yang diberikan”. Tegasnya.

Biogas tidak hanya di minati di siulak, warga Desa Paling Serumpun Rawang, Muara Jaya Kumun dan termasuk juga di desa Tanjung Pauh Keliling Danau. Sebelumnya warga Desa Talang Lindung Sungaipenuh juga telah mengunakan biogas ini.

Di Desa Paling Rumpun saja dari pantuan Koran ini kemarin satu stasiun biogas yang dibangun mampu dialirkan energinya untuk 15 rumah tangga, sehingga beberapa rumah tangga yang ada disekitar stasiun biogas tersebut tidak lagi bersussah payah membeli minyak dan kayu bakar lagi.

Daswir Pengelola Stasiun Biogas di Paling serumpun kepada Koran ini kemarin mengatakan, dirinya setiap hari cukup memasukkan sekitar 8 gerobak kotoran sapi milik warga sekitarnya ke dalam bak penampung biogas sehingga mampu menghasilkan gas untuk keperluan rumah tangga warga sekitarnya. “Kalau dulu kita beli minyak dan beli kayu, tapi sekarang sejak ada biogas ini kita perlu mengeluarkan uang lagi malah selain kita bisa dapat gas juga bisa dapat uang,” kata Daswir.

Gas yang dihasilkan oleh stasiun biogas miliknya itu sebut Daswir, tak ubahnya seperti gas yang dibeli gas elpiji. “Gasnya tidak bau dan malahan tidak ubahnya seperti gas elpiji lainnya,” ucapnya.

Limbah atau buangan kotoran sapi dari proses yang dilakukan di biogas itu sebut, juga bisa dijadikan sebagai pupuk kandang dan saat ini harganya mencapai Rp 3500 per karungnya. “Biasanya disini numpuk pupuk kandang dari sisa biogas, sekarang ini sudah dibeli dan orang ngambil langsung disini dengan harga Rp 3500,” ungkapnya.

Demikian pula penuturan Yeli, ibu dua anak warga Muara Jaya Kumun mengakui sangat terbantu dengan adanya biogas ini. Dikatakan Yelni, dulunya mereka sampai menghabiskan uang untuk membeli kayu dan minyak sampai 75 ribu per bulan kalau sekarangnya cukup dengan memasukkan kotoran ternak miliknya.

Lagi pula katanya, dulu dirumah tempatnya berserakkan kotoran sapi namun sekarang ini kotoran sapi pagi harinya langsung dimasukkan ke bak penampung biogas. “Kami sangat terbantu sekali dengan biogas ini dan pengeluaran juga jauh berkurang,” ucapnya.

Disisi lain pula Ema Fatma dari LTA mengatakan, sejauhn ini pihaknya memang sedang mengembangkan biogas di tiga desa khususnya di Paling Serumpun, Muara Jaya dan Tanjung Pauh. Dipilihnya lokasi ini lantaran ketiga desa ini lebih berpotensi lantaran memiliki banyak ternak sapi sehingga kotoran sapi bisa dimanfaatkan disamping juga menggunakan jerami sebagai bahan fermentasinya. “Memang tipe yang dikembangkan sangat berbeda dan tergantung potensi kotoran ternaknya, kebetulan di Paling Serumpun Rawang potensi kotoran lebih banyak sehingga stasiunnya lebih besar dan bisa dimanfaatkan untuk 15 rumah tangga, sedangkan di Muara Jaya hanya untuk rumah tangga dan dipakai oleh dua rumah tangga,” jelas Ema. yon